Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Jakarta Bergejolak! Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Lawan Kenaikan Harga BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | Juni 11, 2026 WIB | 0 Views

Ilustrasi demo besar Aliansi Mahasiswa di HI dan sekitarnya
Jakarta, 12 Juni 2026 – Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi massa mahasiswa menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026). Aksi yang diperkirakan diikuti sekitar 1.500 peserta tersebut berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan.


Aksi ini melibatkan sejumlah elemen mahasiswa, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, BEM Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, UPN Veteran Jakarta, Universitas Pancasila, Front Mahasiswa Nasional (FMN), serta Serikat Perempuan Indonesia.


Dalam orasinya, para peserta aksi menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin membebani masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Massa membawa berbagai spanduk, poster, dan atribut organisasi sambil menyampaikan tuntutan secara bergantian dari atas mobil komando.


Koordinator aksi menyampaikan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang dinilai semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi.


Lima Tuntutan Besar Mahasiswa

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah, yaitu:

  1. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Massa menolak kenaikan harga Pertamax yang disebut naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter karena dinilai semakin menekan daya beli masyarakat.
  2. Menghentikan dan mengevaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mahasiswa menilai program tersebut perlu dikaji ulang karena dianggap berpotensi membebani anggaran negara dan belum tepat sasaran.
  3. Menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Termasuk di dalamnya kritik terhadap sejumlah program pemerintah yang dianggap tidak menjadi prioritas mendesak, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
  4. Menghentikan praktik militerisme di ranah sipil. Massa menolak keterlibatan aparat dalam ruang-ruang sipil yang dianggap dapat menghambat kebebasan berekspresi dan menyampaikan kritik.
  5. Mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui dan mengevaluasi kebijakan yang dinilai membebani masyarakat. Mahasiswa meminta pemerintah lebih terbuka terhadap kritik publik dan melakukan koreksi terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Sepanjang aksi berlangsung, massa secara bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti tingginya biaya hidup, kondisi ekonomi masyarakat, hingga arah kebijakan nasional yang dinilai perlu mendapat evaluasi menyeluruh.


Aksi demonstrasi di kawasan Bundaran HI sempat menarik perhatian pengguna jalan dan masyarakat yang beraktivitas di pusat ibu kota. Aparat kepolisian melakukan rekayasa lalu lintas secara situasional guna mengantisipasi kepadatan kendaraan di sekitar lokasi aksi.


Mahasiswa menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya mengawal jalannya pemerintahan agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. Mereka juga menyatakan akan terus mengawasi berbagai kebijakan publik dan membuka kemungkinan aksi lanjutan apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapat respons dari pemerintah.


"Mahasiswa akan selalu menjadi suara kritis masyarakat. Kami hadir untuk mengingatkan pemerintah agar setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada rakyat dan tidak menambah beban hidup masyarakat," ujar salah seorang orator dalam aksi tersebut.


[/Hamza Sidik]

×
Berita Terbaru Update