![]() |
| Ilustrasi kesedihan dan kekesalan orang tua polemik SPMB |
Video dan rekaman peristiwa tersebut bahkan beredar luas di media sosial. Dalam tayangan yang beredar, tampak seorang orang tua siswa mengamuk di dalam ruang kantor Disdik Jabar karena merasa tidak mendapatkan kejelasan mengenai proses penerimaan siswa baru.
Keluhan terkait SPMB dan PCMB 2026 kembali membludak hingga membuat kantor Disdik Jawa Barat dipadati calon orang tua murid yang datang untuk meminta penjelasan langsung. Mereka mengaku bingung dengan berbagai persoalan yang muncul selama proses seleksi berlangsung.
Salah seorang warga, Sulastri, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai buruh lepas, mengaku menangis setelah anaknya gagal lolos melalui jalur afirmasi. Menurutnya, kegagalan tersebut terjadi karena data anaknya tercatat berada pada desil 6, sehingga tidak memenuhi persyaratan jalur afirmasi.
"Saya sudah mencoba jalur nilai rapor, tetapi belum berhasil. Sekarang hanya berharap dari jalur domisili, meski kuota yang terlihat di sistem sudah penuh," ungkap Sulastri dengan mata berkaca-kaca.
Keluhan serupa juga disampaikan Irna, seorang ibu rumah tangga asal Bekasi Timur. Ia mengaku kecewa setelah posisi anaknya dalam seleksi berubah secara drastis dalam waktu singkat.
Menurut Irna, pada malam hari Selasa (9/6/2026), anaknya masih berada di peringkat ke-12 untuk masuk ke SMKN 6 Kota Bekasi. Namun ketika kembali memeriksa sistem keesokan paginya, nama anaknya sudah tidak muncul karena tergeser oleh peserta lain.
"Malam masih urutan 12, pagi sudah hilang. Saya sekarang hanya bisa pasrah," ujarnya.
Para orang tua yang datang ke kantor Disdik Jabar menilai masih banyak persoalan dalam pelaksanaan SPMB dan PCMB tahun ini. Mulai dari nilai yang tidak muncul di sistem, perubahan ranking yang dianggap tidak transparan, kendala teknis aplikasi, hingga minimnya sosialisasi kepada masyarakat.
Mereka meminta Disdik Jawa Barat memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Situasi yang sempat memanas akhirnya mendapat perhatian langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Tak lama setelah kericuhan terjadi, Dedi Mulyadi datang ke kantor Disdik Jabar untuk menemui para orang tua siswa dan mendengarkan langsung berbagai keluhan yang mereka sampaikan.
Kedatangan orang nomor satu di Jawa Barat itu membuat suasana berangsur kondusif. Dedi berjanji akan menindaklanjuti berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan SPMB dan PCMB 2026 serta meminta jajarannya memberikan pelayanan dan penjelasan yang maksimal kepada masyarakat.
Hingga saat ini, persoalan penerimaan siswa baru masih menjadi perhatian publik, terutama terkait transparansi sistem, validitas data, serta pemerataan akses pendidikan bagi seluruh calon peserta didik di Jawa Barat.
[/Hamdik]
