Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan panjang penuh pengorbanan. Keterbatasan ekonomi sempat menjadi tantangan besar dalam perjalanan pendidikannya. Namun, Zulfi memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ia terus berjuang demi mewujudkan harapan sederhana almarhum sang ayah: melihat anaknya menjadi seorang sarjana.
“Melalui beasiswa CT Arsa Foundation, kerja keras, dan kegigihan, saya bisa menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung,” ujar Zulfi.
Beasiswa yang diterimanya menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dengan dukungan tersebut, Zulfi mampu melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di sela-sela kesibukan kuliah, ia juga mengajar demi membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketekunan dan semangat pantang menyerah itu akhirnya membuahkan hasil manis. Zulfi tidak hanya berhasil lulus dengan predikat cumlaude, tetapi juga diterima bekerja di perusahaan multinasional. Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan pribadi, melainkan langkah awal untuk membantu keluarga dan meneruskan cita-cita sang ayah.
Kisah Zulfi menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi. Dengan kerja keras, pendidikan, dan semangat juang, seseorang dapat mengubah masa depan hidupnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor ITB turut menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar tidak berhenti hanya pada kecerdasan individu semata.
Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan insan-insan yang mampu bekerja sama, menjelaskan gagasan dengan sederhana, mendengar dengan rendah hati, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Kisah inspiratif Zulfi Akbar Harahap kini menjadi pengingat bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari keluarga sederhana, dan perjuangan yang tulus akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan. [Jrw]