Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Darurat Rokok! Ribuan Pelajar SMP-SMK Terjerat Nikotin Sejak Usia 10 Tahun

Rabu, 10 Juni 2026 | Juni 10, 2026 WIB | 0 Views

Fenomena memprihatinkan kondisi remaja kecanduan rokok
PARENTING – Fenomena pelajar yang merokok kini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Kebiasaan mengisap rokok yang dahulu identik dengan orang dewasa, kini semakin banyak ditemukan di kalangan siswa SMP, SMA hingga SMK. Bahkan, sebagian anak diketahui mulai mengenal rokok sejak usia sekolah dasar.


Data terbaru menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 8,41 persen remaja usia di bawah 18 tahun tercatat sebagai perokok pada 2025, dengan kelompok usia 16-18 tahun menjadi yang tertinggi mencapai 10,09 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa jutaan generasi muda Indonesia masih terpapar dan terjerat konsumsi rokok sejak usia dini.


Sementara itu, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkap bahwa prevalensi perokok usia 10-18 tahun masih berada di angka 7,4 persen, lebih tinggi dari target pemerintah yang ditetapkan sebesar 5,4 persen. Kondisi ini menunjukkan upaya pengendalian rokok pada anak dan remaja masih menghadapi tantangan besar.


Yang lebih memprihatinkan, mayoritas perokok remaja mengaku mulai mengenal rokok saat masih duduk di bangku sekolah. Sebanyak 44,7 persen anak mulai merokok pada usia 10-14 tahun, bahkan 2,6 persen di antaranya mulai merokok sejak usia 4-9 tahun. Fakta ini menjadi bukti bahwa paparan rokok telah menjangkau anak-anak pada usia yang sangat rentan.


Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa kelompok usia 15-19 tahun menjadi kelompok dengan jumlah perokok terbanyak. Selain itu, tren penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja juga terus meningkat dan menjadi tantangan baru dalam pengendalian konsumsi nikotin.


Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak, tetapi juga berpotensi memengaruhi prestasi belajar, kondisi psikologis, hingga masa depan generasi muda. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan ketergantungan sehingga semakin sulit dihentikan ketika usia bertambah.


Pakar kesehatan menilai maraknya pelajar yang merokok tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah semata. Peran keluarga menjadi faktor utama dalam mencegah anak terjerumus dalam kebiasaan tersebut. Lingkungan rumah yang permisif terhadap rokok sering kali menjadi pintu masuk bagi anak untuk mencoba hingga akhirnya kecanduan.


Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Bangun komunikasi yang hangat dan terbuka di rumah. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita, pergaulan, serta berbagai persoalan yang dihadapi anak sehari-hari. Dengan kedekatan emosional yang kuat, orang tua dapat lebih cepat mendeteksi perubahan perilaku anak, termasuk kebiasaan merokok yang mulai muncul.


Di tengah derasnya pengaruh lingkungan dan media sosial, kehadiran orang tua sebagai tempat bercerita, berdiskusi, dan mencari solusi menjadi benteng utama agar anak-anak tidak terjerumus dalam kebiasaan yang dapat merusak kesehatan dan masa depan mereka. Generasi yang sehat, berprestasi, dan bebas nikotin harus dimulai dari keluarga yang peduli dan komunikasi yang terjalin dengan baik.

[/Agung Tazka/Pemerhati Pendidikan]

×
Berita Terbaru Update